2 mins read

Anak rawan terpapar konten porno di internet, KPAI serukan pendidikan seks di sekolah

Komisi Perlindungan kontol Anak Indonesia (KPAI) memandang fenomena seks sudah merambah anak-anak melalui platform media sosial. Digital yang tidak terbendung dengan berbagai konten terselip video maupun gambar vulgar.

Komisioner KPAI, Kawiyan mengatakan, pendampingan pada setiap anak menjadi sebuah kebutuhan dari peran orang dewasa maupun orang tua.

“Makanya perlu pendampingan supaya mereka tidak menyalahgunakan handphone,” katanya saat ditemui Alinea.id di Bareskrim Polri, Senin (27/3).

Kawiyan menyampaikan,kontol selain pendampingan, pendidikan seksualitas juga menjadi urgensi masa kini. Supaya pengetahuan di masa pencarian jati diri tersampaikan dengan benar.

BACA JUGA
Pentingnya anak bermain di luar ruangan
BKKBN pasok data “hidup” untuk atasi stunting dan kemiskinan ekstrem
Manfaat nutrisi esensial yang optimalkan tumbuh kembang si kecil
“Perlu ada pendidikan seksualitas yang diberikan secara benar seperti di sekolah yang disesuaikan dengan usia,” ujarnya.

Kawiyan menyebut, selain peran tersebut, pemerintah juga perlu turun tangan setidaknya melalui kepolisian maupun Kemenkominfo.

Mengingat, polisi dapat memberikan tindakan tegas bila hal terburuk terjadi dan Kemenkominfo dapat mencegah konten vulgar berkeliaran di jagad maya.

“Perlu ada peran kepolisian dan Kominfo yang menguasai jagad digital,” ucapnya.

Sponsored

Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Siber (Ditipidsiber) Bareskrim Polri mengungkap tiga kasus penjualan video pornografi anak melalui dunia maya. Tiga kasus itu berasal dari lima kota berbeda.

Direktur Tindak Pidana Siber (Dirtipidsiber) Bareskrim Polri, Brigjen Ade Vivid Bachtiar mengatakan, laporan pertama dari Kota Tulung Agung dengan tersangka FR. Sementara, yang kedua adalah tersangka JA dengan lokasi tindak kejahatannya di Semarang, Yogyakarta, dan Bandung.

“Terakhir laporan polisi dengan tersangka FH di kota Cirebon,” kata Ade di Bareskrim Polri, Senin (27/3).

Ade mengatakan, pada lokasi di Kota Semarang, tersangka melakukan perbuatan asusila itu ketika berada di tempat sepi dan tidak terdapat orang dewasa lainnya. Ia berusaha mengakrabkan diri dengan para korban.

Upaya itu terlihat dengan memberi korban snack maupun makanan kecil hingga uang. Setelah itu, melakukan perbuatan asusila sesuai keinginan tersangka dan kemudian tersangka direkam baik di foto ataupun di video.

Penyidik menemukan enam korban yang terekam dalam video di Google Drive itu. Selain itu, penyidik juga mengetahui adanya sisi kelainan yang dimiliki oleh tersangka.

Sementara, tersangka FH agak berbeda dengan tersangka sebelumnya. FH mengaku pernah menjadi korban dan setelah dewasa mengulangi perbuatan serupa dengan menyasar para tetangga.

“Selain korbannya tetangga sekitar, juga (ada) di warnet,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *